hai .. readers uda lama bangett aku gak nulis lgi.. hmm kali ini aku pingin berbagi karya yg uda hampir jamuran di folder,,, happy reading yaaa...
DESEMBER
2011
Sabtu,
10 desember 2011
Alunan musik piano itu terdengar sayu
membelai indah di telingaku. Nada – nada indah ciptaan Beethoven terdengar begitu menyejukkan. Perlahan kuikuti alunannya menyusuri
ruangan sekolah yang sunyi senyap. Jantungku berdegup semakin kencang ketika hampir
sampai di sumber suara itu. “Ruang musik A1 ya aku sangat yakin dari sanalah
musik itu berasal. Tunggu sebentar,, bukankah…. Ah masa bodoh”. Beribu
pertanyaan muncul di benakku. Demi mengobati rasa penasaranku, diam – diam aku
mengintip di balik jendela ruangan yang telah lama tak terpakai itu. “oh my God…” hampir saja aku berteriak
tetapi buru-buru kubekap mulutku sendiri. Seorang cowok tampan seusiaku memakai
setelan berwarna hitam yang biasa dipakai saat tampil di orkhestra sedang
memainkan musik indah itu. Hampir sepuluh menitan aku berdiam diri mematung.
“mimpikah ini ?” tanyaku dalam hati sambil kucubit pipi kananku. “akhh.”
Pekikku tertahan. Tiba – tiba cowok bersetelan baju hitam itu menoleh dan
melempar senyum padaku seraya memberi kode untuk menyuruhku masuk. Tanpa ragu
lagi, perlahan tapi pasti, aku melangkah mendekat padanya. “ Beethoven, moonlight sonata” tanpa sadar
aku menebak judul lagunya. Sontan dia menghentikan permainannya dan menatapku.
Entah perasaan apa yang menghampiriku saat ini. Aku merasakan kesedihan,
penyesalan, dan kekecewaan yang mendalam di dalam sorot matannya. Kemudian ia
kembali tersenyum dan memulai lagu baru. Ya,
aku jelas tau judul lagu yang ia bawakan saat ini. Lagu ini sangat
familiar bahkan anak kecilpun pasti langsung mengenalnya walaupun mereka tak
mengetahui judul lagunya. Aku berjalan lima langkah lebih mendekat padanya.
Kuperhatikan caranya memainkan piano itu. Jari-jari jenjangnya menari indah
seakan tau kemana mereka akan melangkah. Dan lagi, perasaan sedih ini
menghampiriku saat aku melihat matanya yang sayu. Lima menit kemudian, dia
mengakhiri permainanya dan aku memberikan tepuk tangan yang meriah untuknya.
“kotak musik, Beethoven- Fur Elise.”
Aku membuka percakapan dan berharap dia juga mau menanggapi. Tetapi dia hanya
terduduk diam sambil menatap kosong kearah jendela. Kemudian dia berdiri dan berjalan menghampiriku.
Tak sepatah katapun yang ia ucapkan saat berdiri tepat di hadapanku. Dia
menatap mataku dalam – dalam seakan ingin menguak apa saja yang telah terjadi
di masa laluku. “Elise” katanya
memecah keheningan. Seakan mengerti expresi wajahku dia tersenyum. “apa kau tau
siapa Elise itu?” tanyanya. “ti…
tidak” jawabku tergagap. “Fur Elise
itu adalah bahasa German yang artinya untuk Elise”
jelasnya. “terus.. kenapa Beethoven menciptakan
lagu untuk dia, apakah dia istrinya?” tanyaku penasaran. Dia menggeleng lembut
“Bukan, dia bukan istrinya bahkan kisahnya berakhir sebelum dimulai”. Jawabnya.
“lalu..?” tanyaku. “Elise adalah
seorang wanita misterius dia adalah adik dari penyanyi Joseph Rockel. “haa..?” kataku terkagum. Sebenarnya aku sedikit
merasa aneh dengan kehadiran cowok ini. Aku tak pernah melihat atau bertemu dia
sebelumnya. Seandainya dia memang siswa sini, aku pasti sekali dua kali bertemu
karena setiap hari senin seluruh siswa di wajibkan mengikuti upacara bendera.
“aku harus pergi” katanya sambil berlari menjauhiku. “eh siapa namamu”
teriakku. “sepulang sekolah di tempat yang sama” sahutnya. Aku bertanya – tanya
dalam hati apa maksud cowok misterius itu, dan kenapa dia lari menuju belakang
sekolah? Bukankah pintu utama dan satu-satunya adalah gerbang? Ah mungkin dia
punya jalan pintas sendiri. Sepeninggalnya, aku hanya berdiri mematung. “Liza”
panggil seseorang di belakangku. “eh.. Ran” jawabku kaget. “ngapain lu disini?”
“enggak pa pa kok Ran.” Jawabku singkat. “ngapain lu disini sendirian, serem
tau! Ini kan kosong udah lama banget, pantes gue cariin kemana-mana nggak ada,
eh malah nglamun di sini.” Celoteh Rani sambil menggeretku pergi. “Eh Ran,, lu
tau nggak siswa sini yang jago main piano? Ganteng lagi?” tanyaku. “lu kenapa
sih?? Sejak kapan ada seorang pianis ganteng di sini, lu tau sendiri kan
sekarang cowok – cowok keren itu pada tertarik main basket ??” jawab Rani. “ok well” jawabku.
Senin,
12 Desember 2011
Ok well hari ini adalah hari senin. Itu artinya semua siswa wajib
mengikuti upacara bendera di lapangan. Semua berkumpul menjadi satu dan saat
itu aku akan mencari makhluk ganteng itu. Kusapukan pandanganku mengelilingi
lapangan upacara, kutengokkan kepalaku kekanan dan kekiri namun nihil tak ada sedikitpun tanda – tanda
tentangnya. Hatikupun semakin penasaran, sekali lagi aku mencoba men-scaning area upacara dan begitupula
hasilnya tetap sama. “ ah.. mungkin dia bukan siswa sini” pikirku. “ Liza,,,
Liz,,, Eliza” panggil Rani sedikit berbisik. “eh,, lu apa sih panggil panggil,
nani kita kene hukum lo” kataku sewot. “lu tu kenapa celingak celinguk kaya
maling ayam aja”. ”nggak papa, pegel aja ini leher” kataku ngasal. Tak sampai
10 menit akhirnya upacara benderapun berakhir dengan ditandai suara riuh dari
para siswa yang saling berhamburan menuju kelas masing – masing. Kakiku
melagkah dengan malas menuju kelas paling ujung. Pikiranku masih berharap harap
dapat bertemu sosok tampan itu lagi. Rani mengoceh tentang banyak hal, walaupun
aku menanggapinya namun tak satupun aku mengerti tentang hal yang sedang
dibicarakan Rani. Entah mungkin karena lelah setelah berdiri cukup lama
perjalanan menuju kelaspun terasa jauh. Mendadak aku berhenti dan duduk
sebentar di depan ruang geografi G1. Karena selain ruang ini sudah lumayan
dekat juga terdapat pohon cherres yang rindang. Mataku iseng melihat – lihat
keatas pohon siapa tau ada buah yang merah. Namun tak sengaja mataku melihat
dia si cowok misterius tengah duduk di depan UKS dan juga menatap ke arahku.
Seperti tak dapat terelakkan tatapan kami bertemu, meski jarak antara ruang UKS
dan Ruang Geografi cukup jauh. Ruang geografi berada pada tingkatan paling
bawah sedangkan UKS berada paling depan bersebelahan dengan kantor staff dan
TU, untuk menuju ruang UKS aku harus melewati beberapa anak tangga, lapangan
basket, tangga lagi, kantin dan sampai di UKS. Namun posisi ruangan ini
berhadapan. Maksut hati ingin menunjukkan pada Rani, namun saat aku menoleh
balik diapun menghilang. “Ran sebentar ya lu masuk kelas duluan,dan tolong
bilangin guru piket gue ke UKS sebentar ambil minyak kayu putih, sakit perut
nih” kataku sambil berlari. “eh.. Ok deh” reaksi Rani yang kaget karena ulahku.
Aku mencoba berjalan secepat mungkin, entah secepat apa sampai – sampai aku tak
merasa kelelahan menaikki beberapa anak tanggak yang setiap hari kumaki – maki.
Hanya sekitar 2 – 3 menit aku telah tiba di ruang UKS. Aneh bin ajaib pintu UKS
ini terkunci. “Eliza Kirana” suara tegas memanggilku. Aku terkejut dan segera
menoleh “i.. iya.. bu ” jawabku. Ibu Marisa guru sejarah yang mengajurku di
tahun pertama ini. “sedang apa kamu di sini Eliza? Bukankah pelajaran dimulai
5menit lagi? Kamu mengerti aturan yang berlaku disini?” tanya Bu.Marisa
beruntun terhadapku. “iya bu, saya hanya ingin mengambil obat dikotak P3K”
kataku. “oh.. begitukah.. baiklah begitu selesai cepat kembali ke kelas”
perintah bu. Marisa. “baik bu” jawabku. Ah.. sial 5 menit lagi pelajaran
dimulai butuh waktu beberapa menit lagi jika aku harus mengambil kunci UKS di
ruang staff. Mungkin nanti waktu istirahat aku akan kembali. Aku segera berlari
menuju kelas tapi tak seperti tadi yang sangat ringan ketika melangkah melewati
jalan ini kakiku justru terasa sebaliknya. Hari ini pelajaran begitu terasa
sangat membosankan mungkin karena aku yang kurang konsentrasi atau mungkin
gurunya yang kurang cakap menarik perhatianku. Kulihat sekeliling temanku yang
lainpun turut menndukkan kepalanya di atas bangku tak luput Rani yang asik sendiri
dengan mp3nya. Aku mencoba mengumpulkan kekuatan untuk berkonsentrasi dan yah..
beberapa poin mata pelajaran ini sanggup ku jaring. 15 menit lagi bel istirahat
akan berbunyi, dan aku sudah bisa berkonsentrasi untuk membuang kebosanan
dengan membaca buku bahasan geografi dan pada akhirnya aku terlarut. Waktu
memang begitu cepat berlalu ketika kita terfokus pada satu hal. Bel tanda
istirahatpun berbunyi. Bagai banteng yang terlepas dari kandangnya kita siap
menyerbu kantin. Aku dan Rani berjalan ke kantin dan melaewati UKS tadi. Namun
sepertinya tak ada orang yang masuk kesini, segalanya tetap bersih dan rapi. 2
jam pelajaran terakhir adalah kegiatan keagamaan dan ekstrakurikuler. Aku ingat
aku akan menemuinya diruang music nanti sepulang sekolah. Karena kebetulan aku
ikut ekstra fotografi dan seni yang mulainya lebih awal sehingga tidak memakan
waktu pulang sekolah. Aku bisa memanfaatkan itu pikirku. Lagi dan lagi hatiku
bergemuruh tak menentu. Aku tak bisa tenang saat kakak pembina menjelaskan
tentang bagaimana cara mengambil gambar dengan sudut pandang yang menarik. Aku
mengangguk – angguk sambil mengotak atik kameraku berpura –pura tertarik dengan
semua penjelasannya. Jepret sana jepret sini dan hasilnya kita tunjukkan pada
senior. “bagus Liz.” Kata salah seorang kakak senior. “sepertinya kamu punya
bakat” tambahnya sembari memberikan seulas senyum manisnya. “terima kasih kak”
jawabku singkat. Beberapa waktu aku sibuk memotret hal hal sepele disekitarku.
Mungkin karena hobi atau sebagainya hasil jepretanku justru menuai banyak
pujian. Ah.. akhirnya selesai juga kelas ini. Waktu masih menunjukkan pukul
14.10. Selisih 10 menit dari jam pulang sekolah biasanya. Sambil menunggu Rani
yang sedang berlatih cheers aku
membawa kameraku berjalan jalan menuju ruang music kemarin. Kulayangkan
pandanganku namun masih sepi hanya sebuah piano kuno yang berada di sudut
ruangan. Bangku dan kursi yang tak terpakai berserakan kemana – mana,
sepertinya tak ada yang membersihkan tempat ini, pikirku. Aku duduk di kursi
batu yang berada di depan ruang ini, beberapa pasang siswa yang asik berpacaran
mungkin aneh melihatku duduk di sini sendiri. Ada beberapa yang menertawaiku dan
ada pula mereka yang menyapaku. Ah.. gumamku dalam hati. Aku tidak
memperdulikan keadaan sekitar hanya kejenuhan menunggu dia yang tak kunjung
datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 itu artinya sudah 20 menit aku
mematung disini. Rani selesai pukul 4 nanti masih ada 1,5 jam lagi. Tapi
kemanakah pianis itu? Apa dia lupa janjinya? Aku sibuk berbicara sendiri
sehingga tak sadar ketika disapa oleh tukang kebun. “neng.. nunggu siapa? Sudah
sepi disini sebaiknya nunggu di kantin saja” kata bapak itu ramah. “oh ..
enggak apa – apa pak.. saya sedang mencari obyek untuk foto” kataku beralasan.
“oh.. yasudah neng, saya kesana dulu” lanjutnya lagi. “iya pak mari” jawabku.
Bapak itu benar di sini memang sudah sepi sekali namun sayu terdengar teriakkan
para pemandu sorak yang masih semangat untuk latihan. Tak berapa lama lagi aku
mendengar dentingan piano kembali melantun merdu. Aku segera berbalik arah dan
menghampirinya. “hai…” sapanya kali ini dia begitu tampak lebih ramah. “hai..
juga” timpalku. “maaf kemarin tak sempat memperkenalkan diri. Stevan namaku”
katanya sambil tetap melantunkan lagu yang kali ini aku tak tau judul lagunya.
“Eliza..”sahutku sambil tersenyum. Kemudian dia mempersilahkanku duduk di
sebelahnya dan kita mulai berbagi cerita untuk saling mengenal. “aku tak
melihatmu saat upacara tadi, dan aku sekilas juga melihatmu di ruang UKS tadi”
tanyaku. “oh… lihatlah. Aku tidak memakai seragam yang lengkap aku tak mau
terkena hukuman di hari ini” katanya “ dan tadi aku mencoba mencari sesuatu di
UKS namun tak berhasil kudapat” tambahnya. “ah.. rupanya kamu termasuk siswa
yang bandel ya?”godaku. “tidak.. tidak.. hanya saja fisikku terkadang kurang
sehat bila harus berdiri dibawah terik lama – lama”.katanya. “baiklah..
baiklah, ngomong – ngomong kamu siswa kelas mana, jarang sekali aku melihatmu”
tanyaku lagi. “emm,, suatu saat nanti kamu pasti menemukanku” godanya. Waktu
seakan cepat sekali berlalu. Kini jam sudah menunjukkan 15.50 saatnya aku
kembali. Aku tak mau Rani menemukanku di sini dan berfkir tidak- tidak. “ah..
maaf kali ini aku yang harus pergi, waktunya untuk pulang” kataku menyesal.
“pulang.. yah kamu harus pulang, temui aku seperti biasa di sini” katanya. Aku
mengangguk dan bergegas pergi. Seperti dugaanku Rani sudah kesal menungguku
ternyata dia selesai lebih awal. Aku berusaha mencari alasan yang masuk akal
untuk meyakinkan Rani karena dia mengetahui jadwalku. Perdebatan kamipun
berakhir bahagia Rani menerima alasanku dan meminta ice cream sebagai gantinya. Yah ,, tak ada pilihan lain. Aku masih
merahasiakan tentang Stevan, berfikir waktu yang tepat untuk membicarakannya.
nah readers itu masih part 1 ya... tunggu kelanjutanya...